Ada yang membaca Alkitab dari Kejadian sampai Wahyu dan berhenti di Imamat. Ada yang membuka pasal acak setiap pagi, menganggapnya cukup untuk hari itu. Dua-duanya sama-sama membaca, tetapi hasilnya di kepala sangat berbeda. Perbandingan metode membaca Alkitab di bawah ini memetakan kelebihan dan kelemahan beberapa pendekatan, supaya kamu tidak memilih cara yang berhenti di tengah jalan.
Membaca berurutan dari awal sampai akhir
Metode ini sederhana: mulai dari Kejadian, lanjut ke kitab berikutnya, lalu terus sampai Wahyu. Banyak orang memilihnya karena terasa tuntas dan mudah dilacak kemajuannya.
Kelemahannya klasik. Bagian seperti peraturan ibadah di Imamat atau silsilah di 1 Tawarikh mudah membuat pembaca berhenti. Membaca berurutan membantu melihat alur besar cerita Alkitab, dari penciptaan sampai penggenapan janji. Kalau kamu memilih cara ini, bagi rencana baca menjadi potongan pendek harian supaya tidak menumpuk di kitab yang berat.
Membaca kronologis mengikuti alur cerita
Metode kronologis menyusun bacaan menurut urutan peristiwa, bukan urutan kitab. Ayub diletakkan di sekitar zaman bapa leluhur, kitab para nabi disandingkan dengan kitab raja-raja.
Pendekatan ini kuat untuk memahami konteks, misalnya ketika membaca kitab nabi sambil melihat keadaan kerajaan pada masa yang sama. Pendekatan ini menuntut tabel atau rencana baca khusus karena urutannya tidak mengikuti nomor halaman. Bagi yang bosan dengan pola berurutan biasa, kronologis memberi rasa baru.
Metode lectionary atau bacaan harian yang sudah disusun
Banyak gereja menerbitkan jadwal bacaan harian, kadang mengikuti lectionary yang dipakai bersama dalam satu tahun. Pembaca tinggal membuka bacaan hari itu, biasanya terdiri dari satu bagian Perjanjian Lama, satu mazmur, satu Injil.
Kekuatannya ada pada keteraturan dan kebersamaan, karena jemaat membaca teks yang sama. Kelemahannya, jadwal ini tidak dirancang untuk memperhatikan kegemaranmu. Kalau minggu ini kamu sedang bergumul dengan ayat tertentu, bacaan harian akan tetap berjalan ke tempat lain.
Studi per pasal dengan mencatat
Di sini setiap pasal dibaca pelan-pelan, ditandai kata yang penting, lalu ditulis pertanyaan di catatan pinggir. Kamu bisa menambahkan langkah seperti menulis ulang ayat kunci dengan kata sendiri.
Kelebihannya, cara ini melatih ketajaman. Kelemahannya, laju bacaan menjadi sangat lambat. Satu pasal bisa memakan tiga puluh menit, dan untuk pemula hal ini sering membuat proyek berhenti di pertengahan. Metode ini cocok bagi yang sudah punya jam khusus dan tidak sedang mengejar target tamat setahun.
Metode berkelompok atau diskusi
Kelompok kecil membaca satu bagian bersama, membahasnya, lalu saling menyampaikan pertanyaan. Metode ini menutup celah pemahaman yang sering tidak terlihat saat membaca sendiri.
Yang perlu disiapkan adalah pemandu yang cukup sabar agar diskusi tidak melebar ke topik lain. Metode ini juga tidak bisa diandalkan untuk memenuhi kebutuhan bacaan pribadi harian, jadi biasanya dipakai bersama satu metode lain.
Membandingkan berdasarkan waktu dan kebiasaan
- Waktu 10-15 menit sehari: bacaan harian terjadwal atau satu pasal pendek dengan catatan singkat.
- Waktu 20-30 menit: membaca berurutan dengan bantuan rencana, atau kronologis.
- Waktu lebih dari 45 menit: studi per pasal, idealnya digabung dengan diskusi kelompok.
- Suka menggali konteks sejarah: kronologis atau studi perikop dengan kamus Alkitab.
- Mudah kehilangan arah: rencana bacaan yang sudah tersusun lebih aman daripada membuka pasal secara acak.
Kalau belum pernah membaca Alkitab secara rutin, lihat panduan 7 cara membaca Alkitab untuk pemula dengan konsisten sebagai titik awal sebelum memilih metode yang lebih berat. Menentukan waktu yang realistis lebih dulu akan menghemat banyak percobaan yang gagal.
Menggabungkan lebih dari satu metode
Tidak ada aturan bahwa kamu harus setia pada satu metode seumur hidup. Satu pola yang banyak dipakai: bacaan berurutan untuk membaca santai di pagi hari, ditambah studi per perikop saat punya waktu lebih panjang di akhir pekan.
Contoh lain: jemaat mengikuti jadwal bacaan gereja, lalu menambahkan satu kitab yang dibaca lambat untuk renungan pribadi. Penggabungan ini menjaga rutinitas tetap hidup tanpa membuat jadwal membengkak. Saat bacaanmu sedang berbicara tentang penderitaan, kerangka arti dukacita yang berpengharapan dalam iman Kristen bisa menolong kamu membaca mazmur keluhan tanpa cepat-cepat pindah ke ayat penghiburan.
Yang sering luput saat memilih metode
Penghalang terbesar biasanya bukan metode, tetapi tuntutan untuk langsung mengerti semuanya. Banyak pembaca berhenti karena merasa bacaannya tidak masuk akal, padahal sebagian besar bagian Alkitab memang perlu dibaca dua kali dengan konteks yang berbeda.
Hal lain yang sering dilupakan adalah mencatat pertanyaan. Menuliskan satu pertanyaan per hari membuat pemahaman bertambah tanpa harus menyelesaikan semuanya sekaligus. Kebiasaan ini juga berguna jika kamu ingin menyampaikan hasil bacaan secara tertulis, sebangun dengan cara menulis ulasan cerpen klasik yang meyakinkan yang menekankan bukti dari teks sebelum menarik kesimpulan.
Untuk urusan doa, jangan menumpuk dua disiplin sekaligus di hari yang sama ketika baru memulai. Pilih satu yang lebih mendesak, lalu lihat cara memulai kebiasaan berdoa setiap hari untuk pemula agar jadwalnya tidak bertabrakan.
Ringkasan singkat
Membaca berurutan cocok untuk melihat alur besar, kronologis baik untuk konteks, bacaan terjadwal menjaga keteraturan, studi per pasal melatih ketajaman, dan kelompok menutup celah pemahaman. Pilih satu sebagai pondasi, lalu tambahkan yang lain sesuai waktu yang benar-benar tersedia. Ukuran keberhasilan bukan jumlah kitab yang tamat, tetapi apakah kamu kembali membuka Alkitab besok.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah harus mulai dari kitab Kejadian?
Tidak wajib. Banyak pembaca memulai dari Injil Markus atau Injil Yohanes karena lebih ringkas dan langsung mengenalkan pribadi Yesus. Kejadian berguna jika kamu ingin mengikuti alur cerita dari awal.
Berapa lama sebaiknya membaca setiap hari?
Sesuaikan dengan jadwal nyata, bukan dengan jadwal ideal. Sepuluh sampai lima belas menit yang dijalani setiap hari lebih membantu dibanding satu jam yang hanya terjadi sekali seminggu.
Bagaimana kalau ketinggalan beberapa hari dari rencana bacaan?
Lanjutkan dari bacaan hari itu dan lewati yang tertinggal, atau kurangi target harian sementara. Mengejar tumpukan biasanya berakhir dengan berhenti membaca sama sekali.